TERIMAKASIH SUDAH BERKUNJUNG KE BLOG SAYA

Thursday, October 11, 2012

Mencintai Sampai Akhir Hidup

. Thursday, October 11, 2012

Sebagai seorang perawat saya menyukai menyapa dan berbicara kepada pasien walaupun sibuk sepanjang hari. Sudah menjadi kebiasaan yang saya pupuk bertahun-tahun menyempatkan diri berbicara atau berbincang-bincang ringan dengan pasien, karena bagiku pasien-pasien yang datang adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan. Menyapa sambil tersenyum atau sambil berbincang-bincang ringan saya lakukan adalah suatu trik untuk mengusir rasa bosan para pasien sementara menunggu giliran bertemu dokter. Karena sangat sibuknya dokter dan banyaknya pasien sepanjang jam prakteknya terkadang pasien harus menunggu giliran untuk beberapa saat lamanya bahkan sampai hitungan jam di ruang tunggu.

Pagi ini klinik tempat saya bekerja sangat sangat sibuk sekali. Sekitar pukul 9:30 seorang kakek berusia 70an datang tanpa membuat janji. Dia pikir tidak perlu membuat janji bertemu dokter karena hanya untuk membuka jahitan dan mengganti perban pada luka di ibu-jari tanganya. Setelah berbincang-bincang ringan dengan kakek aku mempersiapkan perlengkapan untuk membuka jahitan dan mengganti perban agar pada saat dokter datang dokter akan segera menanganinya. Sementara aku mempersiapkan alat-alat kakek memperhatikan setiap alat-alat yang ku siapkan sambil sesekali aku menyapa sang kakek dengan senyum sambil memintanya untuk sabar menunggu, sebab dokter masih sibuk dan ada beberapa pasien lagi sebelum giliran beliau.

Selama menunggu gilran saya perhatikan sang kakek nampak gelisah, berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu sambil sebentar-sebentar melirik jam di dinding dan ke jam tangannya. Memperhatikan sang kakek yang sudah berusia aku merasa kasihan, aku pikir pasti sang kakek ada janji atau ada urusan lain sehingga dia nampak gelisah. Akhirnya aku putuskan untuk membuka dan memeriksa lukanya, ternyata luka cukup baik, kering dan tidak ada infeksi. Aku pikir tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru itu sangat mudah, pekerjaan yang biasa aku lakukan dan tidak terlalu sulit. Aku putuskan untuk menelepon dokter ke ruang konsultasinya untuk meminta persetujuan dokter agar aku dapa membuka jahitan dan mengganti perban sang kakek.  Setelah melaporkan kondisi luka yang tidak ada infeksi dan sudah kering dokter mengijinkanku untuk melakukannya.


Dengan perlahan aku mulai membersihkan luka dan mengunting benang-benang jahitan di ibu jari sang kakek. Sambil menangani luka, aku berbicara dan bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru dan gelisah. Lelaki tua di depanku dengan tersenyum dan menjawab tidak. Tetapi sesaat kemudian dia mengatakan bahwa dia hendak pergi ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang biasa dia lakukan setiap hari. Kemudian sang kakek mulai menceritakan bahwa istrinya mengidap penyakit Alzheimer dan sudah tinggal serta dirawat di panti jompo sejak beberapa waktu lamanya. 


Dengan polos aku bertanya "apakah istrinya akan marah kalau kakek datang terlambat?"
Dengan tatapan mata penuh kasih sang kakek menjawab bahwa sejak 5 tahun terakhir, istrinya sudah tidak lagi dapat mengenali dirinya.
Aku sangat terkejut dan berkata; "kakek masih pergi menggunjungi istri kakek setiap hari walaupun istri kakek sudah tidak mengenali kakek lagi?"
Dengan tersenyum sang kakek menepuk tanganku sambil berkata; "Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, kan?"
Setelah luka dan perban selesai diganti dengan langkah perlahan sang kakek berjalan keluar dari ruangan setelah mengucapkan terima kasih bahwa dia tidak akan terlambat mengunjungi istrinya untuk makan siang hari ini.


Aku berdiri memperhatikan langkah-langkah kakek tua yang berjalan perlahan meninggalkan ruangan sambil menahan air mata. Tanganku masih tetap merinding walaupun sang kakek sudah pergi.
Dalam hati aku berguman cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku!
Cinta yang tidak pernah pudar walau waktu terus berjalan memakan usia yang semakin renta. Cinta yang benar-benar tulus kepada pasangan walaupun penyakit akibat usia yang semakin renta tidak menghalangi cinta untuk tetap tumbuh bersemi.
Cinta tulus dari hati sanubari yang tidak bersifat fisik atau romantis sesaat saja tetapi tetap kekal walau kulit semakin keriput dimakan usia.

Cinta sejati mau menerima apa adanya walau apapun yang terjadi dan akan terjadi.
Cinta sejati tidak akan pernah luntur walau apapun yang terjadi saat ini atau yang akan terjadi karena kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita di hari depan kita.

Pengalamanku hari ini menyampaikan pesan penting bagiku bahwa "Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, tetapi orang yang paling berbahagia adalah orang yang dapat berbuat yang

terbaik dengan apa yang dimilikinya."

Hidup bukanlah sekadar berjuang untuk menghadapi badai dalam kehidupan, tetapi bagaimana kita tetap menari di tengah badai dalam kehidupan kita setiap hari.

Life is beautifull and marvelous. Take it easy. Do the best in everything.
GBU

0 comments:

Erna Website

 

Kamus Bahasa Indonesia

Subscribe Now: iheart

I heart FeedBurner

Erna Website is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com